Kamis, 19 November 2015

LORENG SI HARIMAU ( CERITA RAKYAT JAWA BARAT )



Loreng si Harimau
( cerita rakyat Jawa Barat )






 





Alkisah, disebuah desa hidup seorang petani dan isterinya dengan damai dan bahagia. Suatu ketika saat mereka berjalan, mereka melihat seekor anak harimau yang ditinggal mati oleh induknya. Mereka merasa iba dan sedih melihat keadaan anak harimau itu. Karena iba dan sedih, mereka akhirnya memutuskan untuk merawat dan membesarkan anak harimau tersebut. 
            Petani dan isterinya pun membawa pulang anak harimau itu ke rumah. Sesampainya dirumah mereka memberikan nama anak harimau itu Loreng. Loreng dirawat dan dibesarkan dengan sangat baik oleh petani dan isterinya. selain itu, Loreng juga didik dengan sangat baik oleh mereka. Tidak heran, Loreng menjadi hewan yang baik dan penurut. Saat petani menyuruhnya sesuatu, Loreng dapat mengerti apa yang diperintahkan petani.
            Suatu ketika, isteri petani menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dan benar saja, beberapa bulan kemudian perut isteri petani mulai membesar. Petani sangat senang dan bahagia akan hal itu, dia juga semakin sayang dan cinta pada isterinya. setelah menunggu beberapa bulan, isteri petani melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tanpa kekurangan apapun. Petani sangat senang dan bahagia, dia bersyukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan dia anak laki-laki yang sehat dan tanpa kekurangan apapun.
            Petani dan isterinya merawat dan membesarkan anak mereka dengan penuh kasih sayang. Saat mereka akan pergi ke sawah mereka menitipkan anak mereka pada Loreng. Memang awalnya mereka khawatir akan keselamatan anak mereka, tapi ternyata Loreng dapat di percaya untuk menjaga anak mereka. Oleh sebab itu setiap kali petani dan isterinya akan pergi ke sawah mereka selalu memerintahkan Loreng untuk menjaga anak mereka.
            Pada suatu hari, isteri petani mengantarkan makan siang untuk suaminya. Sesampainya di sawah isteri petani menghampiri suaminya dan mengajaknya untuk makan siang.
“ kakang makan siang dulu ” kata isteri petani.
“ iya isteriku ” jawab petani sambil menghentikan pekerjaannya, lalu menghampiri isterinya. petani lalu makan dengan lahap makanan yang di masak isterinya.
            Baru saja selesai makan, tiba-tiba mereka mendengar suara aungan si Loreng. Mereka melihat Loreng berlari sambil potang-panting menuju mereka. Loreng lalu mengaung manja pada petani dan isterinya sembari menggosok-gosokkan badan dan ekornya pada petani dan isterinya.
“ kakang kenapa Loreng datang kesini? ” kata isteri petani sambil merasa heran.
“ iya benar isteriku kenapa Loreng datang kesini? Tidak biasanya dia datang ke sawah” jawab petani.
“ kakang lihat mulu Loreng penuh dengan darah! ” teriak isteri petani.
Petani pun kaget dan tersentak, saat dilihatnya benar saja mulut Loreng memang berlumuran dengan darah.
“ Loreng apa yang telah kamu lakukan? Jangan-jangan kamu telah membunuh anakku!! ” kata petani.
            Petani yang marah secara spontan mengambil goloknya dan menebaskannya pada leher si Loreng. Karena diserang tiba-tiba Loreng tidak sempat menghindari tebasan golok petani. Dia tersungkur jatuh ke tanah dengan luka tebasan di lehernya. Karena Loreng belum mati, petani menebas leher Loreng kembali sebanyak tiga kali sampai akhirnya lehernya benar-benar putus terpenggal. Loreng pun mati secara mengenaskan.
“ kakang ayo cepat kita pulang ” kata isteri petani.
“ ya, ayo cepat! ” kata petani.
Mereka lalu berlari secepatnya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mereka melihat anak mereka masih berada dalam ayunannya. Ia tertidur dengan nyeyaknya didalam ayunan. mereka merasa lega dan bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada anak mereka. Tiba-tiba mereka kaget melihat seekor ular besar berlumuran darah dibawah ayunan anak mereka. Baru saat itulah mereka sadar, bahwa Loreng telah menyelamatkan nyawa anak mereka dari ular besar tersebut. Petani dan isterinya merasa menyesal atas perbuatan mereka. Terlebih lagi petani kerena telah mebunuh Loreng si harimau yang justrul telah menyelamatkan anak mereka.

1 komentar: