Kamis, 19 November 2015

CERITA RAKYAT JAWA BARAT : TELAGA WARNA



TELAGA WARNA

            Pada zaman dahulu di sebuah kerajaan yang adil dan sejahtera hidup seorang raja yang arif dan bijaksana. Raja memiliki seorang permaisuri yang sudah lama ia nikahi, namun sayang-nya ia dan permaisuri-nya belum juga memiliki seorang anak-pun. Segala cara telah raja gunakan, tapi ia belum juga diberikan anak oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu raja memutuskan untuk pergi ke hutan, dengan maksud menenangkan diri-nya dan juga berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk segera memberikan-nya seorang anak keturunan.
“ Ya Tuhan-ku, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Mengabulkan doa hamba-nya. Berikan-lah kepadaku dan juga isteri-ku seorang anak keturunan. Amin ” isi doa si raja.
            Setelah itu raja pulang kembali ke kerajaan dan menjalankan hidup-nya seperti biasa-nya. Selang beberapa waktu kemudian permaisuri menunjukan tanda-tanda kehamilan, dan ternyata benar saja, permaisuri benar-benar sedang mengandung. Raja sangat tidak sabar menunggu kelahiran anak pertama-nya itu, ia sangat bersemangat dan juga sangat gembira.
            Setelah itu, beberapa bulan kemudian permaisuri melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik dan imut. Raja sangat senang akan kelahiran anak perempuan-nya itu, ia bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah diberikan seorang anak perempuan yang sangat cantik dan juga sehat. Namun bukan hanya raja dan permaisuri saja yang senang akan kelahiran anak pertama-nya itu, anggota kerajaan dan juga rakyat sangat senang atas berita kelahiran anak pertama raja.
            Puteri terus tumbuh dan berkembang menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Saat akan melakukan syukuran atas keselamatan dan kesehatan puteri. Rakyat berbondong-bondong memberikan hadiah, dan dikumpulkan oleh raja untuk nantinya di serahkan kembali pada rakyat. Raja menyisahkan sedikit emas dan beberapa batu yang berwarna sangat cantik, untuk nantinya dibuat menjadi sebuah kalung dan diberikan kepada puterinya. Saat akan diadakan syukuran atas keselamatan dan kesehatan puteri, raja memberikan kalung emas itu pada puteri.
“ puteri anak-ku, pakailah kalung ini! ” kata raja
“ aku tidak mau ayah! ” jawab puteri.
Lalu permaisuri mengambil kalung itu dari raja dan memberikan-nya pada puteri.
“ puteri anak-ku, pakai-lah! Kalung ini adalah pemberian rakyat kita ” kata permaisuri
“ aku tidak mau bunda ” jawab puteri sambil menepis-nya dengan sangat keras.
Kalung itu-pun jatuh dan putus, batu berwarna yang menghiasi kalung itu juga berhamburan kemana-mana. Puteri pun menagis lalu berlari masuk ke kamarnya. Seluruh tamu yang diundang ke acara syukuran puteri sangat kaget dan terkejut akan tindakan puteri, mereka tidak menyangka puteri yang sangat mereka sayangi akan melakukan tindakan seperti itu. Bahkan permaisuri-pun tidak menyangka, bahwa anak-nya yang sangat ia cintai akan melakukan hal seperti itu. Ia pun terduduk dan mulai menangisi kejadian yang baru saja ia alami. Melihat tangisan permaisuri, para tamu wanita-pun ikut bersedih dan menangis. Beberapa tamu pria juga menitihkan air mata mereka karena tak menyangka hal itu akan terjadi.
Tiba-tiba di tempat kalung itu jatuh, muncul sebuah mata air yang makin lama makin besar dan menggelamkan kerajaan dan rumah-rumah penduduk disekitar-nya. Semakin lama air itu juga semakin banyak dan membentuk sebuah danau yang terlihat sangat indah dengan warna-warni pada permukaan-nya. Hal itu sebetul-nya disebabkan karena pantulan cahaya pada permukaan air danau tersebut. Namun, orang-orang percaya warna-warni danau itu berasal dari pancaran batu sang puteri yang terlihat sangat cantik dan indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar