TELAGA
WARNA
Pada zaman dahulu di sebuah kerajaan
yang adil dan sejahtera hidup seorang raja yang arif dan bijaksana. Raja
memiliki seorang permaisuri yang sudah lama ia nikahi, namun sayang-nya ia dan
permaisuri-nya belum juga memiliki seorang anak-pun. Segala cara telah raja
gunakan, tapi ia belum juga diberikan anak oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu
raja memutuskan untuk pergi ke hutan, dengan maksud menenangkan diri-nya dan juga
berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk segera memberikan-nya seorang anak keturunan.
“ Ya Tuhan-ku, Yang
Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Mengabulkan doa hamba-nya.
Berikan-lah kepadaku dan juga isteri-ku seorang anak keturunan. Amin ” isi doa si
raja.
Setelah itu raja pulang kembali ke
kerajaan dan menjalankan hidup-nya seperti biasa-nya. Selang beberapa waktu
kemudian permaisuri menunjukan tanda-tanda kehamilan, dan ternyata benar saja,
permaisuri benar-benar sedang mengandung. Raja sangat tidak sabar menunggu kelahiran
anak pertama-nya itu, ia sangat bersemangat dan juga sangat gembira.
Setelah itu, beberapa bulan kemudian
permaisuri melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik dan imut. Raja
sangat senang akan kelahiran anak perempuan-nya itu, ia bersyukur kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa karena telah diberikan seorang anak perempuan yang sangat
cantik dan juga sehat. Namun bukan hanya raja dan permaisuri saja yang senang
akan kelahiran anak pertama-nya itu, anggota kerajaan dan juga rakyat sangat
senang atas berita kelahiran anak pertama raja.
Puteri terus tumbuh dan berkembang
menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Saat akan melakukan syukuran atas keselamatan
dan kesehatan puteri. Rakyat berbondong-bondong memberikan hadiah, dan
dikumpulkan oleh raja untuk nantinya di serahkan kembali pada rakyat. Raja menyisahkan
sedikit emas dan beberapa batu yang berwarna sangat cantik, untuk nantinya
dibuat menjadi sebuah kalung dan diberikan kepada puterinya. Saat akan diadakan
syukuran atas keselamatan dan kesehatan puteri, raja memberikan kalung emas itu
pada puteri.
“ puteri anak-ku,
pakailah kalung ini! ” kata raja
“ aku tidak mau ayah!
” jawab puteri.
Lalu permaisuri
mengambil kalung itu dari raja dan memberikan-nya pada puteri.
“ puteri anak-ku, pakai-lah!
Kalung ini adalah pemberian rakyat kita ” kata permaisuri
“ aku tidak mau
bunda ” jawab puteri sambil menepis-nya dengan sangat keras.
Kalung
itu-pun jatuh dan putus, batu berwarna yang menghiasi kalung itu juga berhamburan
kemana-mana. Puteri pun menagis lalu berlari masuk ke kamarnya. Seluruh tamu
yang diundang ke acara syukuran puteri sangat kaget dan terkejut akan tindakan
puteri, mereka tidak menyangka puteri yang sangat mereka sayangi akan melakukan
tindakan seperti itu. Bahkan permaisuri-pun tidak menyangka, bahwa anak-nya
yang sangat ia cintai akan melakukan hal seperti itu. Ia pun terduduk dan mulai
menangisi kejadian yang baru saja ia alami. Melihat tangisan permaisuri, para
tamu wanita-pun ikut bersedih dan menangis. Beberapa tamu pria juga menitihkan
air mata mereka karena tak menyangka hal itu akan terjadi.
Tiba-tiba
di tempat kalung itu jatuh, muncul sebuah mata air yang makin lama makin besar
dan menggelamkan kerajaan dan rumah-rumah penduduk disekitar-nya. Semakin lama
air itu juga semakin banyak dan membentuk sebuah danau yang terlihat sangat indah
dengan warna-warni pada permukaan-nya. Hal itu sebetul-nya disebabkan karena
pantulan cahaya pada permukaan air danau tersebut. Namun, orang-orang percaya
warna-warni danau itu berasal dari pancaran batu sang puteri yang terlihat
sangat cantik dan indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar